I just write anything in my mind
Niat sekali aku membuka laptopku yang sudah kusimpan di lemari sehabis menonton film, hanya sekedar untuk menulis apa pun yang ada di pikiranku saat ini. Sebelumnya aku lebih memilih untuk menuliskannya dalam catatan di laptopku atau sekedar masuk dalam memo ponsel. Aku tidak pandai dalam menyusun kata-kata, padahal aku ingin sekali menjadi penulis. Ya, berprofesi sebagai penulis novel, itulah cita-citaku saat kecil ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku baru menyadari minatku untuk menulis karya fiksi saat itu. Namun, aku yakin aku telah memendamnya sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar kira-kira. Dimana saat itu aku sering berkhayal tentang "What-if I . . . " and guess what? Entah ini sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan, aku menonton sebuah film yang alur ceritanya mirip dengan khayalanku dan not surprised when I told my friends, you know what the anwers? I'm plagiat. Thanks guys, I love you so much!
Aku pikir aku cukup keras kepala untuk menghiraukan komentar mereka, sayangnya aku terlalu dungu saat itu dan memilih menghiraukan ucapan mereka. Aku menjaddi tidak percaya pada diriku sendiri. Mungkin aku telah berdosa pada Tuhan karena tidak mempercayai kelebihan yang Dia berika padaku untuk mampu mengingat dengan benar bahwa aku tidak mungkin salah bercerita. Terkadang aku bertanya dalam hati, mengapa orang-orang lebih mempercayai pembohong yang lugas dalam mengatakan semua omong kosongnya daripada orang jujur yang ragu-ragu dan merasa dirinya telah salah mengingat kejadian padahal hal itu memang benar terjadi.
Baiklah, lupakan tentang bagian itu. Kembali pada menulis. Tak jarang aku mendengar orang-orang berkata menulis itu hanya wasting time. Apalagi ketika kamu adalah orang yang tidak terlalu pandai dalam akademis di kelas dan masih menyempatkan waktu untuk membaca novel ketimbang membaca buku pelajaran. Satu hal yag harus ku akui, aku memang malas dalam membaca tapi ada beberapa jenis buku yang pantas untuk kuminati dalam membaca yang salah satunya adalah novel. Cerita fiktif yang mampu mengaihkan kehidupan nyata yang tak jarang bertolak belakang dari harapanmu. dengan membaca cerita fiktif, aku mampu berkhayal "What-if I . . ." bagaimana jika aku berada dalam cerita itu? Menjadi tokoh utaman atau sekedar sahabat dari tokoh utama mungkin? Atau bahkan aku sering memilih menjadi tokoh lawan atau antagonis dalam cerita tersebut apabila sang tokoh utama ini terlalu lemah dan lembut. Entah mengapa aku tidak menyukai sofat tokoh utama yang seperti ini, I mean right now. Karena aku menyukai tokoh seperti ini hanya saat aku masih kecil, di mana aku sering menonton atau membaca kisah fairytale, disney, princess, or barbie. Kebanyakan diceritakan tokohnya bersikap lemah lebut dan terlihat lemah saat dihadapkan dengan tokoh lawan. Dan aku kurang prefer untuk bagian itu saat ini.
Selain novel, aku juga suka nonton film, terutama film holywood entah itu action, horor, thriller, maupun romance. aku kurang menyukai komedi maupun film kartun, yang mana keduanya amat kusukai saat aku masih kecil. Jika disuruh memilih antara novel atau film, aku akan kesulitan untuk membuat jawabannya. Terlalu sulit untuk meninggalkan salah satunya. Aku menyukai keduanya. hanya saja ketika aku memiliki waktu lebih aku akan membaca novel ketimbang nonton film. Why? Karena sangat sulit mendapatkan waktu luang saat ini. Sedangkan nonton film dapat aku sisipkan di sela-sela waktu belajarku untuk mengurangi kantukku.Meskipun pada akhirnya aku tidak belajar setelahnya dan lebih memilih untuk tidur. Setidaknya menonton film tidak terlalu menyita waktu tidurku dibanding denganmembaca novel.
Sebelumnya aku memilih untuk meminjam novel di perpustakaan ketimbang membeli, toh dibaca satu kali juga. Namun, saat ini aku lebih preffer untuk membeli, dikarenakan setiap meminjam kan ada batas waktu peminjaman padahal aku tidak pasti akan membaccanya di antar hari pinjam dan kembali. Sedangkan jika kau membeli, aku akan lebih nyaman untuk membacanya kapan-kapan. Seperti saat ini, masih ada 3 novel dan 2 buku yang belum kubacca sejak dibeli. Keputusanku saat membeli kadang tidak tepat, menurut orang-orang di sekitarku. Biasanya aku membeli novel di tanggal tua, dimana uang sakuku sudah sangat tipis, membeli saat akan ujian dan tentu saja aku tidak akan segera membacanya, dan yang terakhir adalah karena aku sedang badmood dan ingin membelanjakan uangku, berharap dapat mengurangi rasa tidak enak dalam hati saat itu.
Selain alsan itu, aku juga memiliki harapan dengan adanya novel yang aku miliki dapat membimbingku untuk menulis dengan baik, menyusun kaliat yang lebih efektif dan efisian, dan menambah kosa kata baru. Aku berharap dapat menulis leboh baik. Setelah aku membaca tulisan di blog tentang tips menulis dari Tere Liye, aku sadar bahwa aku tidak memiliki alsan untuk tidak menulis hanya karena aku sibuk dengan sekolahku dan ujian. tere Liye seorang akuntan dan dia masih menyempatkan diri untuk melakukan hobinya, menulis. Mengapa aku tidak? Selama ini aku hanya mencari-cari alasan yang tidaak logis untuk menciderai perasaanku yang ingin menulis tapi terhambat waktu. Aku takut jika menulis seperti yang dikatakan orang banyak di sekitarku, "wasting time" melihat aku yang kurang bagus dalam nilai akademis. Mengapa tidak gunakan waktuku untuk bmengulang pelajaran yang aku belum bisa ketimbang menulis? Tak jarang kok pertanyaan itu muncul ditengah-tengah aku mengetik tulisan seperti sekarang ini. namun kali ini aku memilih untuk mengabaikannya. Hal yang dpat aku ingat ketika menulis adalah, tuangkanlah semua perasaanmu dalam lembaran ini selain kamu mengaddu pada Tuhanmu, mengingat tak setiap waktu orang-orang dekatmu memberikan seddikit waktunya untuk berada di sisimu, mendengarkan ceritamu, memahami isi hatimu dan memelukmu. berbeda dengan Tuhan yang selalu mendengar setiap doamu, hanya saja butuh waktu untuk mengabulkannya karena hanya Dia yang tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan jawaban atas doa ini baik diterima, ditolak, maupun ditunda. Selain itu, laptop juga menjadi alternatif setelah kamu berdoa, lembaran ini memberikan ruang untukmu berbagi dalam suka maupun duka. Ceritakanlah setiap moment yang memang ingin kamu bagi, yang melekat di pikiranmu memaksa jemarimu untuk mengukirnya di atas lembaran ini. Menulis, menulis, dan menulis. jangan pernah lelah untuk menulis. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar