Kamis, 12 November 2015

Tips untuk Kita yang Pelupa

Hey guys I'm back again! Kali ini aku mencoba menuliskan sesuatu yang kuharap berguna bagi diriku maupun kalian yang kebetulan membaca blogku. aku akan membagikan beberapa tips untuk mengatasi kebiasaan pelupa terutama bagi para remaja yang memiliki banyak aktifitas dan sering lupa karena banyaknya hal yang harus diingat dan dikerjakan.
Jadilah inilah tips yang sudah aku coba sendiri dan berhasil, menurutku sih hehehe :

1. Siapkan planning yang matang di malam hari sebelum tidur untuk dikerjakan di hari besok. jangan segan untuk mencatatnya dalam notes atau catatan kecil yang biasa kamu letakkan di tempat strategis dan memang sering kamu buka.
2. Buat pengingat di handphone ketika memiliki janji atau acara dengan teman atau komunitas H-2 sebelum acara dimulai untuk kemudian dibuat sebuah catatan di kertas kecil berwarna terang yang ditempel di lemari pakaian.
3. Untuk para anak kost yang sering melaundry pakaian dan akan diambil 3-4 hari, buatlah pengingat cukup di handphone pada pagi hari untuk mengambil laundry.
4. Ketika memiliki tugas atau PR maka kerjakan secepatnya pada hari itu juga agar tidak kelupaan. Ketika pulang sekolah atau kuliah, keluarkan buku-buku yang mengandung PR dan tugas di dalamnya, lalu letakkan di atas meja belajar. Buat tulisan dengan stabilo di atas kertas putih yang kemudian dilipat hingga membentuk seperti papan nama yang bisa diletakkan di atas buku tersebut, mirip kertas nama dari karton yang diletakkan di atas meja siswa pada saat MOS.
5. Untuk yang hobi browsing tiap hari menggunakan laptop atau komputer dapat membuat catatan di post it berwarna warni yang kemudian di tempel di sekitar keyboard laptop.
6. Masih dalam rangka membuat catatan, jadikan memo dengan catatan pengingat sebagai walpaper di handphone, mengingat para remaja sering membuka handphone dan sulit dipisahkan dari benda tersebut.
8. Milikilah kalender sebagai pengingat waktu selain jam, buat cross setelah melewati hari tersebut, bisa juga membuat catatan di kalender dengan melingkarinya dan beri keterangan.
7. Beralih ke masalah kesehatan, untuk mencegah lupa, maka tidur yang cukup adalah salah satu caranya, 7-8 jam untuk remaja di bangku SMP dan SMA, 6-7 jam untuk mahasiswa, menurutku sudah cukup untuk mencegah kelupaan dan menjaga kesehatan, asalkan tidurnya efektif. Browsing aja cara tidur yang efektif.
8. Makan makanan yang mengandung vitamin E sangat diwajibkan untuk memperkuat daya ingat seperti kacang, brokoli, tomat, ikan, minyak ikan, dan gandum.

Well, itulah yang sudah aku lakukan untuk mengatasi kebiasaanku yang pelupa. Selamat mencoba dan good luck! I hope it will work on you too guys! ;)
Silakan jika ingin menambahkan atau memberi kritik dan saran sangat diharapkan :D

Sabtu, 03 Oktober 2015

Resensi novel "Social Girl"

I found it from my laptop with date 14/01/2012 It's been along time guys..



Sosial Girl

                  Buku ini menceritakan tentang kehidupan seorang remaja yang bernama Arie. Dia mempunyai nama lengkap Lariena Cherry Zealinda. Arie duduk di bangku kelas dua SMA di SMA PERMATA BANGSA 1. Dia mempunyai adik bernama Dani yang mempunyai tinggi 175, jauh lebih tinggi dibandingkan Arie yang hanya 160-an. Ayah Arie bekerja sebagai pengawas dan peneliti hewan. Sedangkan ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Arie mempunyai sahabat bernama Kana. Mereka sudah bersahabat sejak TK. Arie adalah cewek yang ceria, ramah, dan asik. Namun dia memiliki kebiasaan buruk yaitu sering bangun kesiangan dan selalu terlambat berangkat sekolah. Kana sering menasehati Arie agar lebih disiplin dan tidak sering terlambat. Tapi Arie tidak mempedulikan omongan Kana, namun Kana tetap sabar dan sangat menyayangi sahabatnya itu. Selain Kana, Arie juga dekat dengan Chris, cowok yang dia sukai.
                  Suatu hari Arie mendapat e-mail dari Chris, e-mail itu berisi puisi cinta tapi Arie tidak membalasnya karena dia mengira bahwa Chris hanya ingin membuatnya GR atau mungkin dia salah kirim. Hingga suatu hari saat Arie dan Kana jalan-jalan di mall, mereka melihat Chris bersama Rachel, murid baru. Mereka sedang jalan berdua. Tiba-tiba Arie merasa rasa sukanya pada Chris hilang begitu saja dan dia tidak merasa cemburu saat melihat mereka jalan berdua. Akhirnya Arie merasa dia tidak benar-benar mencintai Chris.
                  Pada suatu hari ayah Arie dipindah tugaskan ke Jakarta, mau tidak mau Arie dan adiknya juga harus ikut pindah. Sebenarnya Arie keberatan untuk pindah karena dia tidak mau berpisah dengan Kana dan meninggalkan kota tercintanya yang penuh kenangan, Surabaya. Namun dia juga tidak mau mengecewakan ibunya. Akhirnya Arie memutuskan untuk ikut pindah.
                  Setelah turun dari pesawat, mereka langsung menuju rumah dinas baru ayah. Rumahnya  berukuran sedang  yang berserambi luas dan berhalaman luas yang penuh pohon-pohon rindang.
                  Pagi harinya Arie berangkat ke sekolah barunya SMA NATIONAL EDISON. Di sana Arie masuk jurusan IPS. Di kelas 2 IPS3, Arie duduk di sebelah Meika. Di sana Arie mendapat banyak teman. Selain Meika, Arie juga dekat dengan Carol. Setiap istirahat mereka pasti selalu bertiga. Hingga suatu hari saat mereka barjalan menuju kantin Arie ingin ke toilet. Saat Arie berlari menuju toilet tiba-tiba dia menabrak seorang cowok cakep mirip Kenshin di Samurai-X dengan tinggi sekitar 185-an dan matanya tajam seperti elang. Arie pikir cowok itu akan minta maaf tapi ternyata Arie salah, cowok itu malah memaki-maki dia dan menuduh dia ingin cari perhatian pada cowok itu, padahal Arie sama sekali tidak mengenal cowok itu karena dia anak baru di sekolah itu.
                  Saat Arie berjalan bersama Meika dan Carol, Arie melihat segerombolan anak kelas 3 IPS2 yang sedang duduk di bangku taman sekolah di bawah pohon cemara, tiba-tiba datang segerombolan anak 3 IPA1 yang dengan sewenang-wenang mengusir gerombolan anak IPS yang sudah lebih dulu duduk di situ, dan anehnya anak IPS tidak melawan dan langsung pergi. Arie heran melihat kajadian itu. Kemudian Meika dan Carol menjelaskan adanya diskriminasi jurusan yang membeda-badakan anak IPS dan anak IPA. Anak IPS selalu dianggap remeh karena kebanyakan prestasi diraih oleh anak IPA. Tiba-tiba datang anggota OSIS menempelkan pengumuman bahwa diadakan lomba essay berhadiah sepuluh juta. Arie bermaksud ingin mengikutinya. Arie membuat essay tentang diskriminasi jurusan.
                  Pada hari berikutnya Arie menabrak cowok itu untuk yang kedua kali di depan perpus. Cowok itu masih saja mamaki-maki Arie dan menuduhnya cari perhatian seperti cewek-cewek lain yang selama ini mengejar-ngejarnya. Namun Arie cuek lalu dia masuk perpus dan mencari buku yang dia cari untuk membuat essay tentang diskriminasi jurusan yang kini tengah dialami di sekolah barunya itu.
Pagi itu sekolah Arie dihebohkan dengan pengumuman akan diadakannya camping. Arie dan Meika segera mendaftar untuk mengikuti caming tersebut. Keesokan harinya camping dimulai. Saat camping OSIS mengadakan acara dimana ada sebuah misi pencarian bendera kuning. OSIS membagi setiap regu beranggotakan dua orang dan pembagiannya diacak. Arie mendapat nomer 9 dan Meika mendapat nomer 5. Saat mereka sedang membincangkan nomer undian, tiba-tiba ada seorang cowok yang menepuk bahu Arie dan mengatakan bahwa nomernya sama dengan nomer Arie. Ternyata cowok iitu adalah cowok yang waktu itu menabrak Arie dan menuduhnya sembarangan. Mau tidak mau mereka harus bekerjasama untuk mencari bendera kuning tersebut. Namun mereka malah tersesat dan mereka harus tidur di hutan saat itu karena hari sudah malam. Sebelum tidur mereka sempat berbincang-bincang dan berkenalan. Ternyata nama cowok itu Jupiter. Pagi harinya Jupiter bangun dan menemukan peta yang hilang itu dan mereka berhasil kembali ke tenda.

                  Suatu sore Arie disuruh menjemput Dani di sekolahnya, SMA HARAPAN, sekolah yang terkenal ekskul basketnya maju. Saat Arie duduk di tempat penonton tiba-tiba dia melihat sosok pelatih yang masih muda dan ternyata itu Jupiter. Dia tidak menyangka kalau Jupiter menjadi pelatih basket karena menurut murid-murid di sekolah dia tidak bisa olahraga. Tak lama kemudian ada sesorang yang memanggilnya dari arah belakang dan dia Jupiter. Arie bingung dengan sikap Jupiter yang berbeda saat di sekolah dan di lapangan basket itu. Kemudian dia bertanya ada Jupiter apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya Jupiter menceritakan semua yang sebenarnya dia alami. Dulu waktu SMP Jupiter jago basket tapi sayang ayahnya melarangnya karena ayahnya menginginkan dia fokus pada sekolahnya dan kelak meneruskan perusahaan ayahnya. Akhirnya Jupiter harus berpura-pura meninggalkan hobinya itu dan di sekolah dia berpura-pura tidak bisa olahraga karena di sana banyak mata-mata ayahnya. Jupiter menyuruh Arie berjanji untuk tidak menceritakannya pada siapapun. Akhirnya sejak saat itu Arie mulai dekat dengan Jupiter meskipun Jupiter masih dingin padanya tapi Arie tahu sebenarnya Jupiter cowok yang baik.
                  Kedekatannya pada Jupiter membuat Keiko, cewek yang ngefans berat sama Jupiter ini cemburu dan menjelek-jelekan Arie di depan Jupiter. Namun Jupiter tidak mempedulikan omongan Keiko dan dia berkata pada Keiko bahwa dia tidak ada apa-apa dengan Arie dan meminta Keiko untuk tidak mencampuri urusannya dan menjauh darinya. Saat itu dia mengabaikan rasanya yang sebenarnya pada Arie. Dia terpaksa berbohong pada Keiko bahwa dia tidak mencintai siapa pun termasuk Arie.
                  Pikirannya semakin kacau ketika Arie hadir dalam hidupnya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda pada Arie. Dia bisa melihatnya dari mata Arie yang tida berbohong danbenar-benar tulus berteman dengannya. Suatu hari saat dia sedang bingung dengan perasaannya terhadap Arie, tiba-tiba Arie muncul dan mengajaknya bercanda, tapi Jupiter malah membentaknya dan menyuruhnya pergi dari kehidupannya kemudian meninggalkan Arie di taman sendirian. Namun Arie tidak putus asa, dia ingin tetap membantu Jupiter. Akhirnya Arie mendatangi kantor ayah Jupiter dan menjelaskan yang sebenarnya tentang Jupiter.
                  Saat Jupiter berada di kamarnya tiba-tiba ayahnya datang dan bertanya apa yag sebenarnya terjadi. Jupiter bingung bagaimana ayahnya bisa tau apa yang sebenarnya terjadi. Kemudian ayahnya berkata pada Jupiter bahwa ada seorang gadis yang menjelaskan semua yang terjadi. Jupiter menyangka ayahnya akan marah tapi diluar dugaannya ayahnya malah sadar dan memintanya untuk jujur sejak awal. (Hal ini beramanat agar kita selalu berkata jujur dan terbuka pada orang tua apalagi ini menyangkut masa depan kita mulai dari hoby dan minat kita yang sesungguhnya agar orang tua menyadari bakat anaknya dan bisa mendukung bakatnya untuk dikembangkan). Jupiter sangat senang karena ayahnya mengijinkannya untuk menjadi pelatih basket, meskipun basket hanya untuk sekedar hobinya.
                  Pagi harinya saat upacara di sekolah diberitahukan pemenang lomba essay. Arie benar-benar tidak menyangka jika dia mendapat juara satu. Guru-guru dan murid-murid IPA terkejut. Akhirnya mereka menyadari bahwa selama ini mereka telah salah menilai anak-anak IPS. Dan kemenangan Arie menjadi bentuk pembuktian bahwa tidak selamanya anak IPS bisa diremehkan. Bu Karina sebagai wali kelas Arie terlihat sangat bangga dan murid-murid terlihat sangat senang dan juga bangga pada Arie.
                  Saat bel istirahat Arie memutuskan untuk duduk di taman sendirian. Tiba-tiba Jupiter datang dan duduk di samping Arie. Mereka menengadahkan wajah mereka ke atas melihat langit yang semakin mendung. Tiba-tiba Jupiter minta maaf dan berterima kasih pada Arie yang selama ini telah membantunya dan mengubah hidupnya menjadi berwarna dan bahagia. Tak lama kemudian hujan turun. Tiba-tiba Jupiter menggenggam tangan Arie dan mengatakan apa yang sebenarnya bahwa dia memiliki rasa pada Arie namun dia terlalu mengungkapkankeras hingga sulit untuk mengungkapkan rasa yang sudah lama terpendam  dalam hatinya. Dan saat  itu adalah saat dia menyadari bahwa dia memang benar-benar mencintai Arie dan dia tidak ingin Arie pergi dari kehidupannya. Arie juga sadar bahwa sebenarnya dia juga mencintai Jupiter. Dan kini mereka telah menemukan orang benar-benar mereka cintai selama ini.

Begitulah buku ini menceritakan kisah Arie...  Dan percayalah, semua akan indah pada waktunya.:)



Social Girl
Nine

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
All Right Reserved  Cupid 2007
ISBN: 979-24-9434-0
Penyunting: Anita
Desain Isi: i-cupidstudio
Desain Cover: Hawasy
Diterbitkan pertama kali oleh Cupid
Jl. Solo, Komplek Polri, Gowok
Blok A1 No. 2, Yogyakarta 55281

Dipasarkan oleh Cupid Distributor
Jl. Solo, Komplek Polri, Gowok, Blok A1 No. 2,
Yogyakarta 55281, Telp: (0274) 489 718



Dicetak Oleh CV. Venus Corporation
Jogjakarta










Social Girl


Judul : Social Girl

Tema : Cinta, Ketulusan, dan Kejujuran

Tokoh dan Penokohan : 
            1. Arie → ramah, ceria, cerdas, tulus, dan tidak  mudah putus asa
            2. Jupiter → cuek, rajin, keras kepala, menyebalkan, dan cerdas
            3. Orang tua Arie → baik dan bijaksana                    
            4. Ayah Jupiter → keras kepala, egois, kurang peka, dan bijaksana                           
            5. Kana → baik, ceria, pengertian, dan asik                      
            6. Meika → baik, ramah, dan asik
            7. Carol → baik,ramah, dan asik                              
            8. Dani → baik dan asik                                         
            9. Chris → baik, asik, dan menyebalkan                       
          10. Keiko → jahat dan menyebalkan                          
          11. Bu Karina → ramah dan bijaksana

Alur : maju

Sudut pandang : orang ketiga

Amanat :     1. Jangan membohongi diri sendiri
                 2. Berkata jujurlah sejak  awal
                 3. Jangan suka menuduh orang sembarangan
                 4. Jadilah diri sendiri

Senin, 28 September 2015

I just write anything in my mind

I just write anything in my mind

Niat sekali aku membuka laptopku yang sudah kusimpan di lemari sehabis menonton film, hanya sekedar untuk menulis apa pun yang ada di pikiranku saat ini. Sebelumnya aku lebih memilih untuk menuliskannya dalam catatan di laptopku atau sekedar masuk dalam memo ponsel. Aku tidak pandai dalam menyusun kata-kata, padahal aku ingin sekali menjadi penulis. Ya, berprofesi sebagai penulis novel, itulah cita-citaku saat kecil ketika aku duduk di bangku kelas 1 SMP. Aku baru menyadari minatku untuk menulis karya fiksi saat itu. Namun, aku yakin aku telah memendamnya sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar kira-kira. Dimana saat itu aku sering berkhayal tentang "What-if I . . . " and guess what? Entah ini sebuah kebetulan atau memang takdir Tuhan, aku menonton sebuah film yang alur ceritanya mirip dengan khayalanku dan not surprised when I told my friends, you know what the anwers? I'm plagiat. Thanks guys, I love you so much!

Aku pikir aku cukup keras kepala untuk menghiraukan komentar mereka, sayangnya aku terlalu dungu saat itu dan memilih menghiraukan ucapan mereka. Aku menjaddi tidak percaya pada diriku sendiri. Mungkin aku telah berdosa pada Tuhan karena tidak mempercayai kelebihan yang Dia berika padaku untuk mampu mengingat dengan benar bahwa aku tidak mungkin salah bercerita. Terkadang aku bertanya dalam hati, mengapa orang-orang lebih mempercayai pembohong yang lugas dalam mengatakan semua omong kosongnya daripada orang jujur yang ragu-ragu dan merasa dirinya telah salah mengingat kejadian padahal hal itu memang benar terjadi.

Baiklah, lupakan tentang bagian itu. Kembali pada menulis. Tak jarang aku mendengar orang-orang berkata menulis itu hanya wasting time. Apalagi ketika kamu adalah orang yang tidak terlalu pandai dalam akademis di kelas dan masih menyempatkan waktu untuk membaca novel ketimbang membaca buku pelajaran. Satu hal yag harus ku akui, aku memang malas dalam membaca tapi ada beberapa jenis buku yang pantas untuk kuminati dalam membaca yang salah satunya adalah novel. Cerita fiktif yang mampu mengaihkan kehidupan nyata yang tak jarang bertolak belakang dari harapanmu. dengan membaca cerita fiktif, aku mampu berkhayal "What-if I . . ." bagaimana jika aku berada dalam cerita itu? Menjadi tokoh utaman atau sekedar sahabat dari tokoh utama mungkin? Atau bahkan aku sering memilih menjadi tokoh lawan atau antagonis dalam cerita tersebut apabila sang tokoh utama ini terlalu lemah dan lembut. Entah mengapa aku tidak menyukai sofat tokoh utama yang seperti ini, I mean right now. Karena aku menyukai tokoh seperti ini hanya saat aku masih kecil, di mana aku sering menonton atau membaca kisah fairytale, disney, princess, or barbie. Kebanyakan diceritakan tokohnya bersikap lemah lebut dan terlihat lemah saat dihadapkan dengan tokoh lawan. Dan aku kurang prefer untuk bagian itu saat ini.

Selain novel, aku juga suka nonton film, terutama film holywood entah itu action, horor, thriller, maupun romance. aku kurang menyukai komedi maupun film kartun, yang mana keduanya amat kusukai saat aku masih kecil. Jika disuruh memilih antara novel atau film, aku akan kesulitan untuk membuat jawabannya. Terlalu sulit untuk meninggalkan salah satunya. Aku menyukai keduanya. hanya saja ketika aku memiliki waktu lebih aku akan membaca novel ketimbang nonton film. Why? Karena sangat sulit mendapatkan waktu luang saat ini. Sedangkan nonton film dapat aku sisipkan di sela-sela waktu belajarku untuk mengurangi kantukku.Meskipun pada akhirnya aku tidak belajar setelahnya dan lebih memilih untuk tidur. Setidaknya menonton film tidak terlalu menyita waktu tidurku dibanding denganmembaca novel.

Sebelumnya aku memilih untuk meminjam novel di perpustakaan ketimbang membeli, toh dibaca satu kali juga. Namun, saat ini aku lebih preffer untuk membeli, dikarenakan setiap meminjam kan ada batas waktu peminjaman padahal aku tidak pasti akan membaccanya di antar hari pinjam dan kembali. Sedangkan jika kau membeli, aku akan lebih nyaman untuk membacanya kapan-kapan. Seperti saat ini, masih ada 3 novel dan 2 buku yang belum kubacca sejak dibeli. Keputusanku saat membeli kadang tidak tepat, menurut orang-orang di sekitarku. Biasanya aku membeli novel di tanggal tua, dimana uang sakuku sudah sangat tipis, membeli saat akan ujian dan tentu saja aku tidak akan segera membacanya, dan yang terakhir adalah karena aku sedang badmood dan ingin membelanjakan uangku, berharap dapat mengurangi rasa tidak enak dalam hati saat itu.

Selain alsan itu, aku juga memiliki harapan dengan adanya novel yang aku miliki dapat membimbingku untuk menulis dengan baik, menyusun kaliat yang lebih efektif dan efisian, dan menambah kosa kata baru. Aku berharap dapat menulis leboh baik. Setelah aku membaca tulisan di blog tentang tips menulis dari Tere Liye, aku sadar bahwa aku tidak memiliki alsan untuk tidak menulis hanya karena aku sibuk dengan sekolahku dan ujian. tere Liye seorang akuntan dan dia masih menyempatkan diri untuk melakukan hobinya, menulis. Mengapa aku tidak? Selama ini aku hanya mencari-cari alasan yang tidaak logis untuk menciderai perasaanku yang ingin menulis tapi terhambat waktu. Aku takut jika menulis seperti yang dikatakan orang banyak di sekitarku, "wasting time" melihat aku yang kurang bagus dalam nilai akademis. Mengapa tidak gunakan waktuku untuk bmengulang pelajaran yang aku belum bisa ketimbang menulis? Tak jarang kok pertanyaan itu muncul ditengah-tengah aku mengetik tulisan seperti sekarang ini. namun kali ini aku memilih untuk mengabaikannya. Hal yang dpat aku ingat ketika menulis adalah, tuangkanlah semua perasaanmu dalam lembaran ini selain kamu mengaddu pada Tuhanmu, mengingat tak setiap waktu orang-orang dekatmu memberikan seddikit waktunya untuk berada di sisimu, mendengarkan ceritamu, memahami isi hatimu dan memelukmu. berbeda dengan Tuhan yang selalu mendengar setiap doamu, hanya saja butuh waktu untuk mengabulkannya karena hanya Dia yang tahu kapan waktu yang tepat untuk memberikan jawaban atas doa ini baik diterima, ditolak, maupun ditunda. Selain itu, laptop juga menjadi alternatif setelah kamu berdoa, lembaran ini memberikan ruang untukmu berbagi dalam suka maupun duka. Ceritakanlah setiap moment yang memang ingin kamu bagi, yang melekat di pikiranmu memaksa jemarimu untuk mengukirnya di atas lembaran ini. Menulis, menulis, dan menulis. jangan pernah lelah untuk menulis. :)

Jumat, 25 September 2015

Mess Poetry I don't Care

Lewat Tengah Malam

Tersadar raga ini tlah lelah
Terjaga mata ini tak lelap
Bungkamnya hati nyata berserah
Hanya doa yang mampu berucap

Dalam sepi rasa ini mencari
Adakah tulus yang abadi
Tak bertemu sang tuan
Pulanglah dengan kehampaan

Terhanyut dalam ilusi mimpi
Lewat tengah malam
Harap bahagia yang hakiki 
Sayang, bekunya hati selimuti alam

Senin, 31 Agustus 2015

mess

Perasaan kacau, berantakan, hingga ku pikir aku telah kehilangan kewarasanku. Suara-suara itu kembali berdengung di indera pendengaranku. "Tuhan, haruskah aku bersyukur karena minatku untuk membangun ide itu kembali lagi? Atau lebih pantas jika aku menyesali permintaanku melalui doa yang kupanjatkan dalam sujudku, mengenai kembalinya pemikiran bodohku untuk menulis cerpen atau cerita fiksi apapun yang ku yakin akan menghabiskan waktu belajarku? Mungkin yang kedua adalah jawaban yang lebih tepat. Sama bodohnya dengan pertanyaanku.

Oh ya, sebelumnya aku telah mengatakan dalam tulisanku yang entah ku buat kapan, tentunya saat aku merasa frustasi akan sekolah yang akselerasi dari akselerasi ini. Setidaknya aku tidak perlu menyebutkan dimana study ku karena aku yakin ini akan menjadi topik yang bagus untuk menendangku keluar dari beasiswa bergengsi itu. Menjadi anak kampung yang berusaha menjalin hubungan baik dengan para tetangga yang mungkin tidak pernah terima untuk percaya bahwa kau berada di awal kesuksesan karir hidupmu. Ya, aku anak kampung yang memiliki orang tua kontraktor, kontrak sana pindah ke kontrakan yang lain. Ah, itu tidak 100% benar, kami memang mengontrak, tapi tidak dengan pindah sana sini. Masih ku ingat, terakhir kami pindah dari kontrakan sebelumnya ke kontrakan saat ini adalah ketika aku terpaksa mengurus adik keduaku setelah adik laki-lakiku pertama berusia 4 tahun, tepat saat aku duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Aku ingat sekali saat aku merengek meminta ayahku membeli antena televisi kami yang usianya lebih tua 1 tahun dariku. Saat itu kondisi keuangan kami jauh dari kata stabil, tapi tidak sampai pada kami-tidak-mampu-membeli-makan. Tentu saja tidak, setidaknya ibuku tidak menyerah untuk memeri makan kami bertiga, dia meminjam uang pada kakak perempuannya yang memiliki wajah hingga suara nyaris mirip dengannnya.

Oke, lupakan tentang itu. Aku hanya ingin menyinggung sedikit saja tentang perbandingan hidupku saat itu dan sekarang. Memang aku tidak dapat mengatakan kalau kini aku kaya karena itu adalah salah besar! Bahkan kami masih mengontrak rumah, tapi aku tidak buta untuk melihat perubahan yang mungkin menurut orang lain tidak besar pada kondisi ekonomi kami, tapi setidaknya ibuku masih mampu mengirim uang saku tiap bulan untukku mengingat adik laki-laki keduaku baru saja menjalani operasi dengan biaya yang tidak bisa dibilang kecil bagi keluarga kami. Dan hal itu seharusnya membuatku sadar bahwa kami telah melewati banyak hal dengan baik dan bersyukur karena aku masih mampu mengucapkan "selamat ulang tahun yang ke-12" untuk adikku yang berhasil melewati masa di rumah sakit yang mampu menghancurkan hati wanita yang telah bersusah payah melahirkanku.

Ah, seharusnya aku tidak ngelantur kemana-mana sampai aku menuliskan topik inti curhatanku ini. Aku merasa ingin sekali menulis, menguraikan setiap huruf yang berputar-putar di otakku agar mempu mengusir suara novel di telingaku. "Oh, God!" aku hanya tidak tahu bagaimana cara merangkai kalimat demi menggambarkan apa yang kurasakan saat ini. Aku merasa kacau! MESS! Aku ingin mengirim cerpenku yang tak berhasil masuk dalam nominasi 100 cerpen pilihan bulan July dalam sebuah blog penerbitan cerpen remaja. Huh, terdengar seperti idiot-macam-apa-kau-ulfa karena terlalu percaya diri untuk mengirim cerpen yang kalah dalam tingkat blog itu ke sebuah majalah yang tidak ecek-ecek tentunya. Mungkin aku lupa menaruh kewarasanku setelah mandi sore tadi. Koneksi internet yang awalnya hampir membuatku frustasi akhirnya kembali normal dan mengantarkanku untuk menulis blog sepiku ini.

Aku hanya ingin berbagi, berbagi kehidupanku yang setengah buram, nyaris tak berbayang. Dan, ya, aku kembali menemukan diriku yang penuh imajinasi tentang menjadi penulis terkenal itu setelah aku membaca sebuah novel karya Robin Kaye. Kutemukan novel itu di rak toko buku yang lumayan terkenal di ibu kota ini dengan cover bertuliskan "Call Me Wild". Dari judulnya aku sudah tertarik, aku mengakui ada yang berbeda antara diriku engan gadis remaja seusiaku di sekolah manapun yang pernah ku gunakan untuk menimba ilmu yang sebenarnya aku hanya menginginkan nilai dan lulus. Omong-omong tentang lulus, setidaknya aku pernah bangga dengan diriku sendiri saat berhasil meraih nilai UN tertinggi di sekolahku pada tahun ajaran tersebut. Setidaknya hal itu cukup membuktikan bahwa aku bukan gadis cengeng yang berputus asa setelah dikick dari kelas favorit hanya karena mengajak teman-temanmu menuntut keadilan pada gurumu. Mereka menyebutnya, si pembuat masalah yang jika tidak kau keluarkan sekarang dia akan mencuci otak anak-anak cerdas di sini dan menjadikan mereka amunisi untuk menghancurkan sekolah.

Kembali pada topik, mengenai novel yang kubaca, jujur aku menghabiskan setengah hari mingguku untuk membacanya dan melanjutkannya di waktu fajar sebelum temanku berhasil mengetuk pintu kamar kosku. Dan kuselesaikan baru saja, kembali membagkitkan gairahku untuk membeli versi lainnya dan ini bukan pertanda baik mengingat hari kamis dan jumat aku ada ujian dan aku sama sekali belum menguasai materi. Itulah yang membuatku gelisah malam ini, sejujurnya lebih mengarah ke frustasi. Aku sempat menangis sebelum memutuskan untuk bercerita di blog ini. Kucoba mengingat hari-hari bebasku untuk membaca 2 novel dalam 1 hari ketika aku berada di bangku SMA. Bahkan mulai terasa sesak nafas saat aku mulai mengingat hari-hari ku menulis cerpen untuk majalah sekolahku saat masih di bangku SMP. Pernah aku berniat ikut lomba cerpen bersponsor produk lips gloss dan kuurungkan niatku karena aku tidak yakin mampu menyelesaikannya dan mendapat hadiah atas kemenangan karya ala anak ingusan buatanku.

Ya, Tuhan! Mengingatnya saja cukup membuatku ingin mengakhiri harapan tentang menjadi penulis terkenal. Aku ingin, tapi aku masih menyalahkan studiku atas ketidakmampuanku membagi waktu setiap harinya. Aku tidak pandai dalam menyusun sebuah planning meskipun hanya untuk 1 hari saja. Bagaimana aku akan menjadi manajer jika fungsu manajerial pertama saja tak mampu aku lakukan? Menyedihkan, itu yang mampu kukatakan mengenai diriku. Aku tidak begitu yakin tentang menjadi manajer di perusahaan orang lain. Meskipun ada rasa ingin aku mendirikan perusahaanku sendiri dan menjadi manajernya, aku tetap ingin menjadi penulis dan pengelana. Pengelana? Hah, yang benar saja. Bukankah aku tidak pernah pergi lebih jauh dari saat ini, hanya melalui penerbangan pesawat yang tidak sampai 1 jam, tidak dapat menjadikanku sebagi seorang pengelana.

Baiklah aku mulai muak. Aku memiliki tanggungan belajar jika memang tidak ingin pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong, mengingat jika-ipkmu-dibawah-standard, taulah kata apa yang cocok mengakhirinya. Aku mencoba belajar, meski aku tak ingin. Aku hanya sedang belajar menerima kenyataan yang mungkin tidak terlalu buruk untuk ku coba. Aku meminum secangkir robusta gold malam ini. Aku akan melanjutkan curhatku jika ada waktu untuk moodku. Daaaa...

Jumat, 02 Januari 2015

Bersyukur (curhat)

Pernah ga sih lu tu ngerasa cape', bete, sebel sama kegiatan lu yang monoton?! Kuliah yang bikin lu tu ngerasa lebih lelah dibanding temen-temen lu yang kuliah di universitas atau perguruan tinggi lain. Kuliah yang punya sistem berbeda sama kampus lain. Kuliah yang mewajibkan lu mantengin buku tebel dan materi susah dari jam 8 pagi sampe 4 sore. Belum lagi kalau lu sama sekali ga ngeh sama apa yang diterangin dosen seharian itu dan lu harus ngulang tu materi dari jam 5 sore sampe jam 7 malem di kelas sama temen lu yang lebih pinter dari lu. Pulang-pulang lu udah cape', ga sempet nonton TV, chattingan sama temen-temen lu yang lain, apalagi sekedar keluar buat diner bareng sohib lu, ga sempet men! Mandi dan makan malem aja lu kayak dikejar anjing, mesti buru-buru karena besok lu harus bangun pagi buat ngelakuin hal yang sama tiap harinya.

Pernah ga lu ngerasa sendiri?  Ga ada temen curhat yang meluk lu saat lu nangis, ga ada sohib lu yang dengerin curhatan lu saat lu galau, jauh dari nyokap yang selalu ngasih solusi terbaik tiap lu ada masalah, bokap yang marahin lu ketika lu pulang malem, ga seperti sekarang yang pulang dari ekskul basket jam 11 malem naik busway jalan sendiri sampe kos. Dipisahkan jarak sama adek-adek lu yang biasa ngejailin lu dan maksa lu buat teriak marah-marahin mereka. Ga ada tetangga lu yang ngomelin lu di belakang ketika lu pake pakaian terbuka. Semua itu sekarang jauh dari kehidupan gue! Hal-hal yang dulu bikin lu emosi, sekarang mungkin malah bikin lu kangen. Yah, gue ngerasaain itu, gue kangen, kangen sama kehidupan gue yang dulu dengan masalah simple dan ga nuntut gue buat memiliki tanggung jawab kayak sekarang ini.

Kuliah pake heels, celana/rok kain, office look, harus sopan. Ga bisa kelahi, nglabrak orang seenaknya aja, ga boleh ngomong jorok. Harus antri lift, disiplin, dateng tepat waktu, punya tenggung jawab sendiri. Kadang semua itu bikin gue cape' karena berkebalikan dengan kehidupan gue sebelumnya! Lu tau kan gimana rasanya kalau lu harus bersikap terbalik dari sikap lu sebelumnya? Aneh, freak, ga nyaman, pasti gitu awalnya. zgue yakin semua orang pasti pernah ngalamin gitu. Tapi gue ga tau gimana cara mereka ngatasinnya.
 
Kadang gue ngerasa belum saatnya gue ada di posisi ini, posisi yang seharusnya diisi oleh orang dewasa yang cerdas dan bertanggung jawab, disiplin, dan bisa ngatasin masalahnya sendiri tanpa mengeluh dan merengek kayak anak kecil (tentunya gue anak kecil itu). Gue ngerasa ini ga tepat buat gue, dimana gue tu bukan orang yang seperti yang tadi gue sebutkan sebelumnya. Rasanya pingin nangis menyadari gue harus ngelakuin hal-hal yang ga gue suka dan terkadang malah gue benci. Ga adil tau' kalau dibandingin sama remaja seusia gue yang masih santai-santai nongkrong di cafe, main uno, ketawa-ketawa sambil ngisep rokok. Tapi gue sadar, mereka tidak lebih beruntung dari gue.

Tau ga lu, orang-orang bilang gue punya masa depan yang pasti? :) Ya, masa depan yang tidak nuntut lu buat lari-lari nyari kerjaan setelah lu lulus nanti. Masa depan yang tinggal ngitung bulan buat nempatin lu diposisi lebih baik dari mereka yang setelah lulus masih harus nunggu panggilan dari tempat mereka masukin lamaran pekerjaan. Masa yang ga menguras waktu muda lu buat duduk di bangku kuliah 2 tahun lebih lama dari waktu remaja lu yang tersita saat ini. Dan gue percaya, masa itu akan datang tidak lama lagi kalau gue mau sabar sedikit buat nunggu dan bertahan pada posisi gue yang mungkin tidak menyenangkan ini (mungkin untuk saat ini).

 Gue juga merasa lebih beruntung dari temen-temen gue yang lain. Gue kuliah gratis, masih dikasih uang saku pula tiap bulannya dari sekolah, dikirimin uang bulanan juga sama ortu, buku dipinjemin ga usah beli kayak temen-temen yang lain. Senengnya juga kita dikasih coffe break pagi dari hari senin sampai sabtu, dikasih cattering makan siang tiap hari sabtu. Emang sih hari sabtu kita ada kelas, beda sama yang lain yang kalau hari sabtu tu pada libur kuliah. Tapi bagaimanapun juga semua ini harus dijalanin dengan ikhlas.

Kadang lu emang harus melakukan hal-hal yang ga lu suka buat ngedapetin hal yang lebih baik dalam hidup lu. Mungkin lu harus keluar dari zona nyaman (menurut saat itu), buat masuk dalam zona yang lebih baik. Inget kan peribahasa ini, "Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian." yang menurut banyak orang  artinya jika kita ingin bahagia atau sukses, kita harus bersusah-susah dahulu. Tapi menurut gue, kata "bersusah-susah dahulu" itu dihapus aja dan diganti dengan berusaha dan menikmati kesusahan (menurut orang lain) itu sebagai sesuatu yang menyenangkan, suatu pijakan yang memang keras agar kita bisa melompat lebih tinggi. Gue inget kata pak Als, "Saat ini teman-teman kalian mungkin menggunakan pijakan yang empuk untuk melompat dan kalian menggunakan pijakan yang keras. Kalian mungkin akan berpikir betapa enaknya mereka dengan pijakan empuk, sedang kalian harus susah-susah menumpu dengan pijakan keras yang tak jarang membuat kaki kalian sakit. Namun, sadarkah kalian jika pijakan yang keras membuat kalian melompat lebih tinggi daripada pijakan yang empu,  bahkan jika pijakan itu terlalu rapuh malah akan membuat kalian terperosok."

Susah senangnya hidup tu tergantung cara pandang kita dalam melihat cobaan. Kenyataan mungkin ga bisa kita ubah, so kenapa kita ga coba buat ngubah mata yang memandangnya? Maksud gue, ketika kita tu dihadapkan sama cobaan, beberapa orang akan menganggap cobaan itu sebagai suatu permasalahan yang besar dan berat, tapi beberapa orang memandangnya dengan suatu hal yang berbeda, cobaan bukanlah suatu masalah yang perlu kita takuti dan tidak pantas untuk kita hindari, tapi cobaan adalah suatu ujian yang perlu kita hadapi untuk meningkatkan derajat manusia di mata Sang Pencipta. Tuhan memberi lu cobaan, bukan karena Dia benci sama lu atau hukuman atas apa yang lu lakuin di dunia ini, tapi Dia ingin melihat apakah lu pantas mendapatkan tempat yang lebih baik nantinya.

Sekarang gue ngerasa lebih baik setelah gue mau membuka mata gue, melihat sekeliling gue, memandang kenyataan dengan kacamata 'hidden strength', yzng berarti kekuatan yang tersembunyi dibalik kekurangan. Selalu berusaha untuk berpikir positif, mengurangi ngeluh, menghindari marah-marah buat hal yang ga penting, dan gue belajar dari pengalaman gue maupun orang-orang di sekitar gue biar gue tu ga jatuh di lubang yang sama dan melakukan hal yang lebih baik dari hari ini. Yang perlu lu tau, sampai detik ini gue jarang bersyukur dan lebih banyak ngeluh, tapi gue sadar gue harus keluar dari kebiasaan buruk ini. Gue takut Tuhan murka terus ngambil apa yang udah Dia kasih ke gue selama ini karena gue ga pandai bersyukur. Bukannya gue sok suci apalagi sok bijak, gue cuma pingin sharing aja atas apa yang gue rasaain selama ini. Dan gue bangga jadi diri gue sendiri. :D