Perasaan kacau, berantakan, hingga ku pikir aku telah kehilangan kewarasanku. Suara-suara itu kembali berdengung di indera pendengaranku. "Tuhan, haruskah aku bersyukur karena minatku untuk membangun ide itu kembali lagi? Atau lebih pantas jika aku menyesali permintaanku melalui doa yang kupanjatkan dalam sujudku, mengenai kembalinya pemikiran bodohku untuk menulis cerpen atau cerita fiksi apapun yang ku yakin akan menghabiskan waktu belajarku? Mungkin yang kedua adalah jawaban yang lebih tepat. Sama bodohnya dengan pertanyaanku.
Oh ya, sebelumnya aku telah mengatakan dalam tulisanku yang entah ku buat kapan, tentunya saat aku merasa frustasi akan sekolah yang akselerasi dari akselerasi ini. Setidaknya aku tidak perlu menyebutkan dimana study ku karena aku yakin ini akan menjadi topik yang bagus untuk menendangku keluar dari beasiswa bergengsi itu. Menjadi anak kampung yang berusaha menjalin hubungan baik dengan para tetangga yang mungkin tidak pernah terima untuk percaya bahwa kau berada di awal kesuksesan karir hidupmu. Ya, aku anak kampung yang memiliki orang tua kontraktor, kontrak sana pindah ke kontrakan yang lain. Ah, itu tidak 100% benar, kami memang mengontrak, tapi tidak dengan pindah sana sini. Masih ku ingat, terakhir kami pindah dari kontrakan sebelumnya ke kontrakan saat ini adalah ketika aku terpaksa mengurus adik keduaku setelah adik laki-lakiku pertama berusia 4 tahun, tepat saat aku duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Aku ingat sekali saat aku merengek meminta ayahku membeli antena televisi kami yang usianya lebih tua 1 tahun dariku. Saat itu kondisi keuangan kami jauh dari kata stabil, tapi tidak sampai pada kami-tidak-mampu-membeli-makan. Tentu saja tidak, setidaknya ibuku tidak menyerah untuk memeri makan kami bertiga, dia meminjam uang pada kakak perempuannya yang memiliki wajah hingga suara nyaris mirip dengannnya.
Oke, lupakan tentang itu. Aku hanya ingin menyinggung sedikit saja tentang perbandingan hidupku saat itu dan sekarang. Memang aku tidak dapat mengatakan kalau kini aku kaya karena itu adalah salah besar! Bahkan kami masih mengontrak rumah, tapi aku tidak buta untuk melihat perubahan yang mungkin menurut orang lain tidak besar pada kondisi ekonomi kami, tapi setidaknya ibuku masih mampu mengirim uang saku tiap bulan untukku mengingat adik laki-laki keduaku baru saja menjalani operasi dengan biaya yang tidak bisa dibilang kecil bagi keluarga kami. Dan hal itu seharusnya membuatku sadar bahwa kami telah melewati banyak hal dengan baik dan bersyukur karena aku masih mampu mengucapkan "selamat ulang tahun yang ke-12" untuk adikku yang berhasil melewati masa di rumah sakit yang mampu menghancurkan hati wanita yang telah bersusah payah melahirkanku.
Ah, seharusnya aku tidak ngelantur kemana-mana sampai aku menuliskan topik inti curhatanku ini. Aku merasa ingin sekali menulis, menguraikan setiap huruf yang berputar-putar di otakku agar mempu mengusir suara novel di telingaku. "Oh, God!" aku hanya tidak tahu bagaimana cara merangkai kalimat demi menggambarkan apa yang kurasakan saat ini. Aku merasa kacau! MESS! Aku ingin mengirim cerpenku yang tak berhasil masuk dalam nominasi 100 cerpen pilihan bulan July dalam sebuah blog penerbitan cerpen remaja. Huh, terdengar seperti idiot-macam-apa-kau-ulfa karena terlalu percaya diri untuk mengirim cerpen yang kalah dalam tingkat blog itu ke sebuah majalah yang tidak ecek-ecek tentunya. Mungkin aku lupa menaruh kewarasanku setelah mandi sore tadi. Koneksi internet yang awalnya hampir membuatku frustasi akhirnya kembali normal dan mengantarkanku untuk menulis blog sepiku ini.
Aku hanya ingin berbagi, berbagi kehidupanku yang setengah buram, nyaris tak berbayang. Dan, ya, aku kembali menemukan diriku yang penuh imajinasi tentang menjadi penulis terkenal itu setelah aku membaca sebuah novel karya Robin Kaye. Kutemukan novel itu di rak toko buku yang lumayan terkenal di ibu kota ini dengan cover bertuliskan "Call Me Wild". Dari judulnya aku sudah tertarik, aku mengakui ada yang berbeda antara diriku engan gadis remaja seusiaku di sekolah manapun yang pernah ku gunakan untuk menimba ilmu yang sebenarnya aku hanya menginginkan nilai dan lulus. Omong-omong tentang lulus, setidaknya aku pernah bangga dengan diriku sendiri saat berhasil meraih nilai UN tertinggi di sekolahku pada tahun ajaran tersebut. Setidaknya hal itu cukup membuktikan bahwa aku bukan gadis cengeng yang berputus asa setelah dikick dari kelas favorit hanya karena mengajak teman-temanmu menuntut keadilan pada gurumu. Mereka menyebutnya, si pembuat masalah yang jika tidak kau keluarkan sekarang dia akan mencuci otak anak-anak cerdas di sini dan menjadikan mereka amunisi untuk menghancurkan sekolah.
Kembali pada topik, mengenai novel yang kubaca, jujur aku menghabiskan setengah hari mingguku untuk membacanya dan melanjutkannya di waktu fajar sebelum temanku berhasil mengetuk pintu kamar kosku. Dan kuselesaikan baru saja, kembali membagkitkan gairahku untuk membeli versi lainnya dan ini bukan pertanda baik mengingat hari kamis dan jumat aku ada ujian dan aku sama sekali belum menguasai materi. Itulah yang membuatku gelisah malam ini, sejujurnya lebih mengarah ke frustasi. Aku sempat menangis sebelum memutuskan untuk bercerita di blog ini. Kucoba mengingat hari-hari bebasku untuk membaca 2 novel dalam 1 hari ketika aku berada di bangku SMA. Bahkan mulai terasa sesak nafas saat aku mulai mengingat hari-hari ku menulis cerpen untuk majalah sekolahku saat masih di bangku SMP. Pernah aku berniat ikut lomba cerpen bersponsor produk lips gloss dan kuurungkan niatku karena aku tidak yakin mampu menyelesaikannya dan mendapat hadiah atas kemenangan karya ala anak ingusan buatanku.
Ya, Tuhan! Mengingatnya saja cukup membuatku ingin mengakhiri harapan tentang menjadi penulis terkenal. Aku ingin, tapi aku masih menyalahkan studiku atas ketidakmampuanku membagi waktu setiap harinya. Aku tidak pandai dalam menyusun sebuah planning meskipun hanya untuk 1 hari saja. Bagaimana aku akan menjadi manajer jika fungsu manajerial pertama saja tak mampu aku lakukan? Menyedihkan, itu yang mampu kukatakan mengenai diriku. Aku tidak begitu yakin tentang menjadi manajer di perusahaan orang lain. Meskipun ada rasa ingin aku mendirikan perusahaanku sendiri dan menjadi manajernya, aku tetap ingin menjadi penulis dan pengelana. Pengelana? Hah, yang benar saja. Bukankah aku tidak pernah pergi lebih jauh dari saat ini, hanya melalui penerbangan pesawat yang tidak sampai 1 jam, tidak dapat menjadikanku sebagi seorang pengelana.
Baiklah aku mulai muak. Aku memiliki tanggungan belajar jika memang tidak ingin pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong, mengingat jika-ipkmu-dibawah-standard, taulah kata apa yang cocok mengakhirinya. Aku mencoba belajar, meski aku tak ingin. Aku hanya sedang belajar menerima kenyataan yang mungkin tidak terlalu buruk untuk ku coba. Aku meminum secangkir robusta gold malam ini. Aku akan melanjutkan curhatku jika ada waktu untuk moodku. Daaaa...